About Us

Blog tentang berbagai hal menyangkut aktifitas ngeblog dan social media, ditulis oleh seorang blogger yang juga penulis buku

  • Post 1
  • Post 2
  • Post 3

Content

Haruskah Menunggu Mood Menulis?

1 comments
"Aku belum ngeblog. Gak mood..." begitu ungkap seorang teman. Gak mood, menjadi alasan untuk tidak ngeblog (alasan lain yang juga populer adalah sibuk). Tapi benarkah gak mood merupakan penghalang untuk ngeblog?

Jika harus menunggu mood, bisa-bisa hingga sebulan blognya gak diupdate. Jadi, menurut aku, mood jangan ditunggu. Tapi harus diciptakan.

Kreasikan suasana yang mampu memancing munculnya mood. Manfaatkan situasi sekeliling untuk menciptakan mood. Simak pemberitaan televisi, sinetron, gosip artis, film televisi atau apa saja yang bisa mendatangkan ide. Biasanya, jika ide menulis sudah didapat, mood akan datang dengan sendirinya.

Kalau persoalan 'gak mood' masih bisa diatasi, yang sukar ditanggulangi adalah sibuk. kendala ini yang membuat blog ini sempat terlantar hingga berbulan-bulan

Panduan Menulis Buku (2): Orientasi Pasar

3 comments
SETELAH memilih topik untuk pembuatan buku, langkah selanjutnya adalah survey pasar. Survey ini penting untuk melihat sejauh mana peluang pasar menyerap buku yang akan dibuat. Karena tak ada artinya jika sebuah buku yang cape-cape dibuat berbulan-bulan lalu ternyata tidak laku. Oh ya, survey pasar ini aku masukkan sebagai langkah kedua. Tentu saja Anda bisa menjadikan survey pasar ini sebagai langkah pertama, sebelum memilih topik. Gak ada yang melarang, hehehe

Ke mana survey pasar ini dilakukan? Ya tentu saja di pasar, hehehe. Dalam hal ini, pasar yang dimaksud adalah toko buku. Lho kok toko buku? Apa hubungannya? Hubungannya sih baik-baik saja, hehehe (ups mulai ngelantur).

Dasar pemikirannya begini. Semua penerbit besar, seperti kelompok Gramedia, memperlakukan penerbitan sebuah buku sebagai bisnis yang serius. Hal ini tentu bisa dipahami karena mereka memang dikenal sebagai pemain besar dalam bisnis penerbitan buku.

Nah, dalam menentukan layak terbitnya sebuah naskah, grup Gramedia biasanya punya beberapa tim khusus. Antara lain tim redaksi dan marketing. Tim redaksi menilai kelayakan naskah dari segi tata bahasa, tema, penting tidaknya naskah, termasuk apakah menyalahi norma atau nilai yang dianut penerbit dan kelaikan lainnya. Sementara tim pemasaran menilai naskah dari sisi pasar, apakah naskah itu bisa diserap pasar, berapa lama, dan hal semacam itu.

Jadi bisa saja ada naskah yang menurut redaksi dinilai layak terbit, namun oleh pemasaran dianggap tidak layak jual.

Secara umum, penerbit besar akan menerbitkan sebuah naskah yang dinilai layak dari segi naskah dan diperkirakan akan laku dijual. Walau kadangkala penerbit seperti kelompok Gramedia juga menerbitkan buku yang sejak awal sudah diperkirakan tak akan laku. Biasanya hal ini dilakukan semata untuk branding, jika yang diterbitkan itu sangat bermutu namun enggan dibeli (mungkin karena bukunya tebal dan harganya ratusan ribu rupiah). Namun kebijakan menerbitkan buku bermutu namun sukar dijual hanya diberlakukan sewaktu-waktu. Secara umum mereka akan menerbitkan sebuah naskah yang sejak awal sudah diperkirakan akan diterima pasar.

Jadi survey ke toko buku untuk melihat, apakah tema yang Anda pilih sudah pernah diterbitkan penerbit besar. Jika Anda melihat ada buku sejenis dengan tema yang dipilih, itu pertanda baik. Karena artinya dari sisi pasar, buku dengan tema itu dianggap layak jual. (Sebaiknya ketika amati periksa dulu penerbitnya siapa. Fokuskan perhatian pada penerbit besar ;) )

Jadi misalkan Anda punya pengalaman atau minat yang besar pada topik pengembangan diri. Apakah tema pengembangan diri juga diterbitkan penerbit besar?

Jika Anda amati toko buku terkemuka (seperti Gramedia), Anda akan menemukan bahwa buku tentang pengembangan diri banyak dicetak, dan ada yang bahkan termasuk dalam jajaran buku laris. Ini tentu pertanda bagus.

Yang harus dilakukan adalah mengamati buku 'pesaing' itu. Lihat daftar isi, dan baca satu dua bab. Lihat hal apa yang kira-kira menjadi kelebihan buku itu, dan bandingkan dengan topik yang akan Anda buat. Tentu, Anda sangat tidak disarankan untuk mengikuti alur buku yang sudah ada mentah-mentah. Sebaiknya Anda membuat dengan sisi yang berbeda. Atau Anda mulai dari sisi yang tidak terlalu ditonjolkan buku itu.

Jika Anda berminat pada internet/komputer, misalnya, Anda akan melihat bahwa topik itu mendapat ruang yang cukup besar di toko buku. Artinya bidang internet dan komputer punya pasar yang menjanjikan. Tapi tentu saja tidak semua topik terkait interent dan komputer yang layak cetak.

Sebagai contoh, aku pernah menyodorkan naskah berjudul 'Google vs Yahoo vs Bing' ke Elex. Namun naskah itu ditolak. Alasan editor, berdasarkan pengalaman bidang pemasaran, buku dengan tema mesin pencari kurang laku di pasar.

Untuk internet/komputer, berdasarkan pengamatan (dan pengalaman), tema tentang blog (terutama blogspot dan wordpress) cukup banyak dicetak. Begitu juga tema 'cari uang di internet'. Jadi bisa disimpulkan kalau tema seperti ini cukup punya pasar.

Selain pengembangan diri dan internet, tema yang juga cukup banyak ditemui di toko buku adalah yang terkait dengan religi, keluarga dan bisnis. Termasuk, tentu saja, berbagai tema kisah fiksi. 

Bagaimana jika tema yang dipilih tidak ditemui di toko buku? Kemungkinan besar tema itu memang tidak layak jual. Atau, mungkin saja penerbit belum menemukan naskah yang sesuai dan memenuhi standar. Jadi jika Anda menilai tema buku yang akan dibuat bisa dijual, bisa laku, ya tidak apa-apa untuk meneruskan. Tapi jika tidak, tentu tak ada salahnya untuk mencari topik lain.

Selain toko buku, salah satu cara yang paling efektif untuk mengukur kelayakan pasar dari buku yang akan dibuat adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Jadi misalkan Anda sudah memilih sebuah topik, bertanyalah: Jika buku semacam ini dibuat orang lain, apakah aku akan membelinya?

Jika Anda ragu, berarti buku dengan tema itu memang tidak layak jual. Jika Anda bisa dengan mantap berkata ya, maka proyek pembuatan buku bisa diteruskan.

Tentu saja untuk menjawab pertanyaan ini Anda harus jujur. Dan karena Anda bertanya pada diri sendiri, seharusnya Anda bisa mengetahui kalau Anda bohong bukan? Hahaha

Next: Fiksi atau non fiksi?














.










Menulis Buku: Memilih Topik

0 comments
MENULIS buku merupakan obsesi banyak orang, termasuk blogger. Buku merupakan salah satu ’warisan intelektual’ yang bisa dijadikan jembatan untuk memperkaya wawasan. Menulis buku juga bisa menjadi alternatif untuk menambah penghasilan.


Apakah menulis buku itu sulit? Bisa ya bisa tidak, tergantung dari mana sudut pandang Anda. Pengalamanku, menulis buku itu relatif mudah, kendati tentu saja tetap memerlukan kerja keras. Karena sebuah buku tak akan tercipta dengan sendirinya.

Memilih topik

Langkah pertama dalam menulis buku adalah memilih topik. Bagaimana caranya memilih topik?

Jika ini karya pertama, maka yang disarankan adalah memilih topik yang disukai. Menulis buku memakan waktu lama. Biasanya berkisar pada satu hingga tiga bulan. Bahkan ada yang memerlukan waktu enam bulan hingga lebih dari setahun. Jika topik yang dipilih tidak terlalu disukai, maka menulis buku akan terasa seperti pekerjaan yang melelahkan. Anda akan merasa terpaksa.

Jika memilih topik yang disukai, setiap pagi Anda akan bangun dengan semangat baru, ide baru. Anda akan selalu merasa bergairah. Menulis tidak akan terasa seperti pekerjaan karena Anda melakukan atau menuliskan sesuatu yang Anda sukai.

Jadi jika senang memasak, mungkin Anda bisa mulai dengan membuat buku yang terkait dengan dunia masak-memasak. Mungkin kumpulan resep unik, tip dan kiat dalam memasak, atau membuat kisah fiksi yang tokoh utamanya gemar memasak.

Jika hobi menanam tanaman hias, Anda bisa menulis tentang pengalaman Anda, misalnya bagaimana cara praktis membuat stek, kombinasi pupuk organik apa yang sesuai untuk tanaman tertentu, dan yang semacam itu.

Jika senang traveling, atau karena urusan pekerjaan Anda ‘terpaksa’ berkeliling ke berbagai daerah, Anda bisa menuliskan pengalaman itu, baik dalam bentuk ‘ekspedisi’ atau sekedar tuntunan perjalanan.

Jika senang ngeblog, Anda bisa menuliskan kiat praktis seputar ngeblog berdasarkan pengalaman. Jika punya pengalaman ngeblog di beberapa platform (blogspot, wordpress atau blogdetik), Anda juga bisa membuat buku yang berisi perbandingan platform itu dan tuntunan bagaimana bisa ngeblog dengan efektif.

Tentu, jika ingin menjadi penulis profesional, Anda mau tak mau harus menulis berbagai topik, termasuk yang mungkin tidak terlalu disukai. Namun sebagai langkah awal, sebaiknya Anda memulai dari topik yang disukai atau yang disenangi.

Sesuai latar belakang

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana jika aku tak punya topik yang disukai? Tak masalah. Jika merasa tak punya sesuatu yang disukai, atau mungkin hobi Anda sukar diwujudkan atau dialihkan dalam tulisan, Anda bisa membuat buku yang terkait dengan latar belakang atau profesi.

Jadi jika sehari-hari berkecimpung di dunia pendidikan, misalnya, Anda bisa membuat buku yang terkait dengan bidang pengajaran. Mungkin Anda bisa membuat buku berisi usulan tentang kurikulum yang sesuai dengan era digital, menuliskan pengalaman dengan anak didik, suka-duka guru, dan semacamnya.

Jika latar belakang Anda di dunia hukum, Anda bisa menulis hal terkait hukum. Bisa tuntunan praktis tentang hukum, menjabarkan berbagai kasus dengan bahasa yang mudah dimengerti pihak awam, atau menulis novel yang tokoh utamanya penegak hukum (pengacara atau polisi).

Jika sehari-hari Anda biasa bersentuhan dengan anak jalanan, misalnya, atau dengan hewan langka, atau dengan pejabat tertentu, Anda bisa menuangkan pengalaman dan suka-duka itu menjadi buku. Karena topik yang dituangkan dalam buku itu Anda kuasai, itu akan memudahkan. Karena Anda tahu persis bagaimana seluk beluknya.

Orientasi pasar

Selain menulis topik yang disukai atau sesuai degan latar belakang, ada satu hal penting yang harus dilakukan. Yakni survey pasar. Jika buku akan dijual, maka hakekatnya menulis buku akan menjadi bisnis. Karena itu penting untuk mengetahui bagaimana kira-kira respon pasar terhadap buku itu. Tak ada gunanya Anda bersusah-payah menulis buku, yang sesuai dengan hobi atau latar belakang, jika nantinya buku yang dibuat hanya memenuhi gudang toko buku karena tak laku.

Bagaimana caranya mengintip peluang pasar? Hal itu akan aku tuliskan di posting berikutnya, hehehe

(catatan: posting ini–dan juga posting-posting selanjutnya dibuat berdasarkan pengalaman pribadi ditambah pengamatan dari berbagai sumber. Jadi mungkin saja apa yang aku paparkan berbeda dengan pengalaman teman lain yang juga sudah menulis buku. Jika ada teman yang punya pengalaman atau kiat berbeda, mungkin bisa membaginya di sini )

Bagaimana Caranya Supaya Blog Dibaca Banyak Orang?

9 comments
BLOG adalah media untuk menyampaikan ide serta gagasan. Juga bagian dari sarana ekspresi diri. Tentu, akan sangat menyenangkan jika posting yang dibuat di blog dibaca banyak orang. Bagaimana caranya supaya blog dibaca banyak orang? Sedikitnya ada lima hal yang bisa Anda lakukan.


1. Baca blog Anda sendiri
Banyak blogger yang setelah membuat posting di blognya lalu melupakan, atau setidaknya mengabaikan apa yang ditulis. Setelah dipublish, baca kembali posting Anda, dan amati jika ada kekeliruan ejaan atau istilah. Baca juga semua komentar yang masuk. berilah respon atau tanggapan atas semua komentar.
Ketika pembaca berkomentar di posting yang Anda buat, artinya mereka ingin berinteraksi dengan Anda sebagai penulis. Jika Anda tak merespon komentar, pembaca akan merasa diabaikan dan selanjutnya akan malas berkomentar lagi.
Pembaca yang merasa komentarnya tak dibaca secara psikologis akan merasa malas untuk membaca apa yang Anda tulis. Jadi sedapat mungkin berilah respon pada semua komentar. Bahkan jika komentar yang masuk jumlahnya puluhan. Respon bisa dilakukan satu demi satu atau bisa juga satu tanggapan untuk beberapa komentar.

2. Baca blog pembaca
Salah satu cara untuk kembali 'mengundang' pembaca berkunjung adalah dengan melakukan kunjungan balik dan balas  berkomentar. Jika itu terjadi beberapa kali maka secara alamiah akan terjalin hubungan pertemanan antara Anda dengan pembaca yang rutin mendatangi dan juga kerap Anda kunjungi.

3. Berkomentar pada lebih banyak blog
Selain pada blog yang pemiliknya sudah mengunjungi, sebaiknya Anda juga berkomentar pada blog lain. Sebaiknya pilih yang temanya senada dengan blog Anda. Usahakan membuat komentar yang menarik dan bukan sekedar basa-basi. Dengan berkomentar pada lebih banyak blog akan memperbesar peluang blog Anda dikunjungi.

4. Tulis kembali posting yang menarik
Jika menemukan posting yang menurut Anda menarik, jangan ragu untuk menuliskan kembali di blog Anda. Jangan lupa menyisipkan linkback. Namun posting yang menarik itu jangan Anda kutip mentah-mentah alias copy paste, karena itu ilegal dan merupakan aksi plagiat. Jadi tulis posting itu menurut kata-kata Anda sendiri.
Pemilik blog yang postingnya Anda kutip biasanya akan membuat ulasan khusus tentang hal itu, disertai link ke blog Anda. Dan ini akan mendatangkan trafik untuk Anda.

5. Bahas komentar yang menarik
Jika Anda tanpa sengaja menemukan diskusi menarik pada blog tertentu, Anda bisa membahas hal itu secara khusus di blog Anda. Bisa juga dirangkaikan dengan diskusi serupa yang terjadi di blog Anda. Hal ini akan membuat pihak yang terlibat dalam diskusi itu mendatangi blog Anda dan ikut berkomentar.

Cara Mendapatkan Uang dari Blog Berbahasa Indonesia

8 comments
BLOG sudah terbukti bisa mendatangkan uang. Namun apakah blog berbahasa Indonesia bisa mendatangkan uang? Bagaimana cara mendapatkan uang dari blog berbahasa Indonesia?

Sebenarnya blog berbahasa Indonesia bisa mendatangkan uang, kendati tentu saja peluang dan jumlahnya tidak sebesar blog berbahasa Inggris. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Berikut beberapa hal yang sudah pernah aku lakukan dan terbukti bisa mendatangkan dollar atau rupiah.

Membuat review

Ini teknik mendapatkan dollar yang banyak dipraktekkan blogger Indonesia. Caranya, Anda membuat posting berupa review dan sebagai imbalan Anda akan mendapatkan uang. Untuk itu Anda harus bergabung dengan pihak tertentu (atau situs tertentu). Ada sejumlah situs yang menyediakan layanan seperti ini. Salah satu yang pernah menjadi 'langgananku' adalah Blogvertise.

Untuk bisa mendapat order, blog yang didaftarkan harus memiliki pagerank minimal 3. Semakin tinggi semakin bagus. Untuk Alexa Rank maksimal 1 juta. Biaya untuk satu posting review berada pada kisaran 5 hingga 10 dolar (bagi blogger besar konon ada yang tarif review untuk satu posting bisa ratusan dolar. Namun pengalamanku kisarannya 5 hingga 10 dolar).

Namun sayang, Google sebagai pihak yang berwenang menentukan Page Rank tidak menyukai blog yang postingannya berupa review. Apalagi dalam postingan review pihak pemberi order biasanya mensyaratkan untuk menyertakan minimal 3 link ke situs pemberi order. Google tidak segan-segan untuk menurunkan Page Rank dari blog yang membuat posting review. Aku pernah memiliki blog ber-PR tiga, dan setelah menulis beberapa posting review tiba-tiba PR-nya terjun bebas menjadi 0!!

Mendapatkan uang dari review merupakan contoh bagaimana uang didapatkan secara langsung dari blog.

Membuat buku

Dari blog dan menjadi buku. Ini juga metode yang digunakan beberapa blogger Indonesia. Yakni membuat buku yang terinspirasi dari blog. Ada yang materinya dicopas dari posting blog, ada juga yang membuat buku berdasarkan hal-hal yang terkait dunia blog. Beberapa buku yang aku buat dan diterbitkan Elex Media Komputindo termasuk dalam tipe ini. Sebagian besar buku yang aku buat lebih berupa pengamatan berdasarkan pengalaman selama menjadi blogger.

Aku bahkan pernah membuat sebuah buku yang terinspirasi oleh posting seorang blogger. Blogger ini, suamimalas, menulis tentang 30 blogger berpenghasilan terbesar. Aku merasa ide ini menarik. Aku kemudian membedah masing-masing blogger dan juga situsnya. Bukunya kemudian terbit dengan judul 'Bagaimana Membangun Blog Berpenghasilan Super Besar'.

Saat posting ini dibuat, sudah 6 buku karanganku terkait dunia internet dan blog yang diterbitkan Elex. Ada satu yang dalam proses naik cetak, dan aku sementara mengerjakan dua naskah yang proposalnya telah disetujui. (Semoga setelah membuat posting ini aku bisa menyelesaikan minimal satu bab, hehehe).

Membuat buku terkait blog merupakan contoh bagaimana mendapatkan uang secara tidak langsung dari blog.

Memasang iklan

Cara termudah mendatangkan uang dari blog adalah memasang iklan, terutama iklan kontekstual seperti Google Adsense. Sayang hingga tahun 2011 ini Google Adsense belum bisa dipasang di blog berbahasa Indonesia.

Di Indonesia ada beberapa layanan iklan mirip Adsense. Aku belum punya pengalaman soal ini jadi belum bisa memberikan gambaran. Namun jika melihat tampilan iklan di sejumlah blog Indonesia, kelihatannya advertisernya belum begitu banyak.

Kalau enggan memasang iklan kontekstual produk dalam negeri, yang bisa dilakukan adalah memasang iklan yang advertisernya Anda cari sendiri. Atau, yang paling gampang, Anda memasang iklan produk sendiri. Jadi jika Anda punya produk yang sementara dipasarkan, Anda bisa memasang iklannya di blog.

Aku juga memasang cover buku yang aku buat di sejumlah blog milik sendiri. Namun pemasangan iklan ini hanya sebatas memberi informasi secara tidak langsung dan tidak dilengkapi dengan sarana pemesanan. Karena semua pemasaran buku yang aku buat diatur langsung oleh Elex.

Beberapa blogger yang juga membuat buku kerap memajang hasil karyanya sebagai iklan. Ada juga yang dilengkapi petunjuk tatacara pemesanan, seperti yang aku liat di blognya yessi greena.

Contoh halaman pemesanan beserta 'iklan' buku milik yessy greena

Tapi tentu saja, tak semua pemilik blog mau menjadikan blognya sebagai mesin uang. Banyak yang menggunakan blognya semata sebagai wahana untuk besenang-senang sekaligus untuk menyalurkan kegelisahan  di benak melalui tulisan. Tapi jika kelak kapan-kapan Anda 'iseng' mau mendapatkan tambahan uang dari blog, Anda bisa memulai seperti yang aku lakukan.

Anda mungkin punya pengalaman lain?



Berapa Pengguna Facebook di Indonesia?

0 comments
BERAPA pengguna Facebook di Indonesia? Hingga  akhir Februari 2011, menurut catatan checkfacebook,  pengguna Facebook Indonesia  berjumlah 35.174.940.  Sementara pengguna internet di Indonesia hingga November 2010, menurut Inside Facebook,  diperkirakan mencapai 45 juta. Artinya lebih dari 75 persen pengguna internet Tanah Air punya akun Facebook. Atau secara sederhana, dari 10 pengguna internet di Indonesia, tujuh di antaranya punya akun Facebook



Pertumbuhan Facebook di Indonesia memang cukup mencengangkan. Di awal 2010,  pengguna Facebook baru berjumlah 15.301.280. Pada periode itu Indonesia tercatat sebagai negara dengan pertumbuhan pengguna Facebook kedua tertinggi di dunia. Prestasi ini masih dipertahankan hingga awal 2011. Bukan hanya pertumbuhan, namun Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan tingkat pengguna Facebook kedua terbesar di dunia. Indonesia hanya kalah dari Amerika Serikat yang memiliki sekitar 152 juta pengguna, namun mengungguli Inggris yang pemilik akun berjumlah sekitar 28,9 juta.


Lalu apa artinya pengguna akun  Facebook yang mencapai 35 juta? Dari sisi bisnis, 35 juta merupakan pangsa pasar yang sangat menggiurkan. Jika dikelola dengan maksimal (tentu dengan itikad baik dan bukannya berniat menipu) maka 35 juta merupakan konsumen yang sangat potensial.


Tentu, upaya pemasaran melalui Facebook perlu mempertimbangkan berbagai aspek. Apalagi menurut  mayoritas pengguna Facebook di Indonesia berada pada rentang usia 18-24, usia yang bisa 'memaksa' orang tua untuk mengeluarkan uang untuk belanja. Sebagian anak muda dalam usia ini bahkan sudah punya penghasilan sendiri.




Sayang, sebagian pemilik akun Facebook di Indonesia memilih beraktivitas yang tergolong tidak produktif, seperti main game. Apakah Anda termasuk dalam golongan ini?


Email di Facebook Menyenangkan, Tapi...

0 comments
ISENG melihat messages di Facebook, ternyata aku sudah punya alamat email. Rupanya pihak Facebook setuju untuk memberikan alamat email yang disesuaikan dengan nama akun.

Tapi setelah punya email facebook, yakni suka.ngeblog@facebook.com, aku justru bingung. Aku merasa tak ada kepentingan mendesak untuk mengirimkan email ke pihak yang menjadi teman di Facebook (apalagi sebagian besar teman 'sukangeblog' di Facebook bukan benar-benar teman di dunia nyata, atau setidaknya belum). Aku juga masih merasa ragu apakah email di Facebook benar-benar bisa berfungsi.

Aku pun iseng melakukan percobaan. Pertama, mengirimkan email dari gmail ke email facebook. Dan ternyata emailnya masuk dengan selamat.


Aku kembali melakukan percobaan, dengan me-reply email dari gmail.



Dan lagi-lagi, pesannya masuk dengan selamat dan sentosa. Artinya dari segi kecepatan, email facebook tidak kalah dengan layanan lain.



Tapi ada perbedaan prinsip antara  email Facebook dengan layanan email gratisan lain seperti gmail dan yahoo.mail. Pada Facebook tak ada subject atau judul email. Juga tak ada cc dan bcc. Aku tidak tahu apakah itu merupakan keuntungan atau justru kerugian.

Pihak Facebook memang menegaskan kalau apa yang dikenal sebagai email pada hakekatnya lebih berupa pesan. Jadi judul pesan memang tak diperlukan, sama halnya dengan cc atau bcc. Pada Facebook, email bisa terkirim hanya dengan menekan 'enter'. Cukup praktis.

Jadi kesimpulannya, email di Facebook cukup menyenangkan. Walau memang perlu penyesuaian.

Jadi sudahlah Anda punya email Facebook?


Twitter Bakal Berbahasa Indonesia

0 comments
INI kabar gembira untuk para pengguna Twitter di Indonesia.Dalam waktu dekat layanan microblogging terkemuka ini akan menyediakan layanan berbahasa Indonesia.

Sejauh ini Twitter menyediakan tujuh bahasa untuk pengguna, yakni Bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Korea, Perancis, Jerman dan Jepang. Para pengguna bisa memilih satu dari tujuh bahasa ini sebagai pengantar. 

Ingin Menikah (Lagi?) Google Bisa Bantu

0 comments
Menikah adalah momen paling membahagiakan. Banyak pihak yang ingin acara pernikahannya berlangsung sempurna, semarak dan penuh kenangan. Supaya acara pernikahan berlangsung lancar, diperlukan perencanaan yang matang dan detil.

Jika Anda bingung bagaimana merencanakan pernikahan, Anda bisa meminta bantuan Google. Mesin pencari raksasa ini baru saja merilis situs yang bisa membantu pihak yang ingin menikah. Dan situs yang beralamat pada www.google.com/weddings ini gratis.


Sebenarnya, Google Weddings ini tidak menyajikan layanan yang baru, tapi berupa kombinasi sejumlah produk lama yakni Google Sites, Google Docs, Picnik dan Picasa Web Album. Namun semua layanan ini diberi sentuhan baru dan disesuaikan dengan tema pernikahan. Tak tanggung-tanggung, Google bahkan menyewa wedding planner terkemuka, Michelle Rago, yang memberi masukan dan tips pada situs ini.

Pada Google Sites, misalnya, disediakan sejumlah template cantik yang bernuansa pernikahan. Dengan Google Sites Anda bisa membagi kisah dan pengalaman Anda terkait pernikahan kepada sahabat.



Sementara Google Docs membantu Anda menyiapkan acara pernikahan dengan rinci. Google Weddings bahkan menyediakan semacam formulir yang dibagi dalam beberapa kategori seperti perencanaan pernikahan, buku alamat, daftar tamu, perencanaan budget, menu untuk resepsi, dan masih banyak lagi.

Dengan Picnik Anda bisa mengedit foto terkait persiapan pernikahan. Google Weddings juga telah menyediakan sejumlah themes yang cantik sehingga Anda bisa mengatur foto dengan sangat mudah.


Foto-foto yang telah diedit ini bisa disatukan dalam album online melalui Picasa Web Album yang relatif aman. Foto-foto ini bisa dibagi kepada para tamu atau sahabat yang bakal diundang.

Jadi, kapan Anda menikah (lagi)?

Bagaimana Menjadi Jutawan Internet Sebelum Usia 25

0 comments
D “I internet, tak ada yang tahu kalau Anda itu anjing”. Ini kalimat bernada sarkastis tentang internet dalam kaitan dengan pengguna. Jika kalimat itu dirubah, bisa menjadi seperti ini: Di internet , tak ada yang tahu kalau Anda masih remaja.


Kalimat terakhir ini yang menjadi pijakan sejumlah remaja yang kisahnya dibahas di buku ini. Sebagai contoh, simak yang dilakukan Sean Belnick. Ketika baru berusia 14 tahun, ia memutuskan untuk menjadi pedagang. Dan ia menjajakan dagangannya melalui internet. Ketika berusia 21 tahun, Belnick telah tercatat sebagai salah satu anak muda terkaya di Amerika Serikat.