Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Panduan Menulis Buku (2): Orientasi Pasar

SETELAH memilih topik untuk pembuatan buku, langkah selanjutnya adalah survey pasar. Survey ini penting untuk melihat sejauh mana peluang pasar menyerap buku yang akan dibuat. Karena tak ada artinya jika sebuah buku yang cape-cape dibuat berbulan-bulan lalu ternyata tidak laku. Oh ya, survey pasar ini aku masukkan sebagai langkah kedua. Tentu saja Anda bisa menjadikan survey pasar ini sebagai langkah pertama, sebelum memilih topik. Gak ada yang melarang, hehehe

Ke mana survey pasar ini dilakukan? Ya tentu saja di pasar, hehehe. Dalam hal ini, pasar yang dimaksud adalah toko buku. Lho kok toko buku? Apa hubungannya? Hubungannya sih baik-baik saja, hehehe (ups mulai ngelantur).


Dasar pemikirannya begini. Semua penerbit besar, seperti kelompok Gramedia, memperlakukan penerbitan sebuah buku sebagai bisnis yang serius. Hal ini tentu bisa dipahami karena mereka memang dikenal sebagai pemain besar dalam bisnis penerbitan buku.

Nah, dalam menentukan layak terbitnya sebuah naskah, grup Gramedia biasanya punya beberapa tim khusus. Antara lain tim redaksi dan marketing. Tim redaksi menilai kelayakan naskah dari segi tata bahasa, tema, penting tidaknya naskah, termasuk apakah menyalahi norma atau nilai yang dianut penerbit dan kelaikan lainnya. Sementara tim pemasaran menilai naskah dari sisi pasar, apakah naskah itu bisa diserap pasar, berapa lama, dan hal semacam itu.

Jadi bisa saja ada naskah yang menurut redaksi dinilai layak terbit, namun oleh pemasaran dianggap tidak layak jual.

Secara umum, penerbit besar akan menerbitkan sebuah naskah yang dinilai layak dari segi naskah dan diperkirakan akan laku dijual. Walau kadangkala penerbit seperti kelompok Gramedia juga menerbitkan buku yang sejak awal sudah diperkirakan tak akan laku. Biasanya hal ini dilakukan semata untuk branding, jika yang diterbitkan itu sangat bermutu namun enggan dibeli (mungkin karena bukunya tebal dan harganya ratusan ribu rupiah). Namun kebijakan menerbitkan buku bermutu namun sukar dijual hanya diberlakukan sewaktu-waktu. Secara umum mereka akan menerbitkan sebuah naskah yang sejak awal sudah diperkirakan akan diterima pasar.

Jadi survey ke toko buku untuk melihat, apakah tema yang Anda pilih sudah pernah diterbitkan penerbit besar. Jika Anda melihat ada buku sejenis dengan tema yang dipilih, itu pertanda baik. Karena artinya dari sisi pasar, buku dengan tema itu dianggap layak jual. (Sebaiknya ketika amati periksa dulu penerbitnya siapa. Fokuskan perhatian pada penerbit besar ;) )

Jadi misalkan Anda punya pengalaman atau minat yang besar pada topik pengembangan diri. Apakah tema pengembangan diri juga diterbitkan penerbit besar?

Jika Anda amati toko buku terkemuka (seperti Gramedia), Anda akan menemukan bahwa buku tentang pengembangan diri banyak dicetak, dan ada yang bahkan termasuk dalam jajaran buku laris. Ini tentu pertanda bagus.

Yang harus dilakukan adalah mengamati buku 'pesaing' itu. Lihat daftar isi, dan baca satu dua bab. Lihat hal apa yang kira-kira menjadi kelebihan buku itu, dan bandingkan dengan topik yang akan Anda buat. Tentu, Anda sangat tidak disarankan untuk mengikuti alur buku yang sudah ada mentah-mentah. Sebaiknya Anda membuat dengan sisi yang berbeda. Atau Anda mulai dari sisi yang tidak terlalu ditonjolkan buku itu.

Jika Anda berminat pada internet/komputer, misalnya, Anda akan melihat bahwa topik itu mendapat ruang yang cukup besar di toko buku. Artinya bidang internet dan komputer punya pasar yang menjanjikan. Tapi tentu saja tidak semua topik terkait interent dan komputer yang layak cetak.

Sebagai contoh, aku pernah menyodorkan naskah berjudul 'Google vs Yahoo vs Bing' ke Elex. Namun naskah itu ditolak. Alasan editor, berdasarkan pengalaman bidang pemasaran, buku dengan tema mesin pencari kurang laku di pasar.

Untuk internet/komputer, berdasarkan pengamatan (dan pengalaman), tema tentang blog (terutama blogspot dan wordpress) cukup banyak dicetak. Begitu juga tema 'cari uang di internet'. Jadi bisa disimpulkan kalau tema seperti ini cukup punya pasar.

Selain pengembangan diri dan internet, tema yang juga cukup banyak ditemui di toko buku adalah yang terkait dengan religi, keluarga dan bisnis. Termasuk, tentu saja, berbagai tema kisah fiksi. 

Bagaimana jika tema yang dipilih tidak ditemui di toko buku? Kemungkinan besar tema itu memang tidak layak jual. Atau, mungkin saja penerbit belum menemukan naskah yang sesuai dan memenuhi standar. Jadi jika Anda menilai tema buku yang akan dibuat bisa dijual, bisa laku, ya tidak apa-apa untuk meneruskan. Tapi jika tidak, tentu tak ada salahnya untuk mencari topik lain.

Selain toko buku, salah satu cara yang paling efektif untuk mengukur kelayakan pasar dari buku yang akan dibuat adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Jadi misalkan Anda sudah memilih sebuah topik, bertanyalah: Jika buku semacam ini dibuat orang lain, apakah aku akan membelinya?

Jika Anda ragu, berarti buku dengan tema itu memang tidak layak jual. Jika Anda bisa dengan mantap berkata ya, maka proyek pembuatan buku bisa diteruskan.

Tentu saja untuk menjawab pertanyaan ini Anda harus jujur. Dan karena Anda bertanya pada diri sendiri, seharusnya Anda bisa mengetahui kalau Anda bohong bukan? Hahaha

Next: Fiksi atau non fiksi?














.










3 comments:

  1. I go through your blog..The survey is really very important for marketing..And this blog is like a guide to start the survey..

    ReplyDelete
  2. I have been reading the articles on this site for sometime. This is my first comment. Your blog has been very useful for me and it provides very good content.

    ReplyDelete
  3. I'm surprised that your post has not gotten any good quality, genuine comments. You have done a great job by posting this article.Thanks

    ReplyDelete